‘KASTA’* DALAM MASYARAKAT SENIMAN PELUKIS

July 11, 2008

*) meminjam dari kosa kata Hindu yang berarti kelas atau strata

Pendahuluan

Kalau kita membaca dan mengikuti tulisan/ kritik/ essay baik yang melalui media cetak atau televisi mengenai dunia seni lukis di Indonesia selama 30 tahun terakhir ini, kesan umum yang timbul adalah, dunia para seniman pelukis se-olah-olah ‘flat’ saja. Se-olah-olah semua seniman pelukis Indonesia ini berkumpul di ruangan yang sama pada ketinggian lantai yang sama pula.

Sedangkan yang sesungguhnya terjadi tidaklah demikian.

Dunia dengan segala isinya mengenal apa yang disebut ‘klas’ atau ‘tingkatan’. Suatu tatanan langgeng dalam jagad raya yang di dalamnya terdapat tingkat-tingkat risiko dan kwalitas hidup. Dalam wujud hidup yang ber-beda-beda.

Orang Hindu mengistilahkan ‘kasta’.

Selanjutnya uraian yang menyangkut ‘klas’ atau ‘tingkat’ di bawah ini dimaksudkan melambangkan sikap moral. Bukan klas atau tingkat dalam pengertian darah, faktor keturunan atau ras manusia. (Karena banyak darah atau ras ksatria atau brahmana bersikap moral sudra dan sebaliknya orang sudra lebih bersikap moral ksatria atau brahman).

Dunia para seniman pelukis juga mengenal klas atau tingkat dengan masing-masing wilayah orbitnya.

Masih meminjam beberapa istilah Hindu. Orbitnya ‘seniman pelukis brahmana’ jelas beda dengan orbitnya ‘seniman pelukis ksatria’, beda pula dengan orbitnya ‘seniman pelukis weisya, sudra’ dsl.

Perbedaan orbit tersebut erat kaitannya dengan ‘sikap moral seniman’ yang secara spesifik disebabkan adanya perbedaan orientasi moral di antara para seniman pelukis, yang di dalamnya mengandung komitmen dan risiko dalam melaksanakan kewajiban dan menempuh kehidupannya masing-masing.

  • Seorang brahmana adalah ‘pemilik kebebasan sejati’ yang ber-karyacipta dan melakukan perubahan nilai-nilai kehidupan demi kehidupan yang lebih baik secara esensial dan hakikiah. Wilayah orbitnya adalah jagad raya yang tak terbatas. Aktualisasinya terkadang sangat sederhana. Kesederhanaan yang sarat dengan energi.yang mampu mempengaruhi pergerakkan semesta yang berisi debu-debu hingga galaksi yang penuh bintang-bintang. Energi yang mendorong kehidupan menjadi lebih baik.
  • Seorang ksatria adalah pemimpin dan penguasa dunia, pahlawan dan pejuang nilai-nilai kehidupan. Wilayah orientasinya adalah cinta, pengabdian dan pengorbanan untuk kehidupan yang lebih baik yang diungkapkan melalui karya-karyanya dengan kepribadian atau jati dirinya. Mereka sarat dengan lambang-lambang pejuang dan kepahlawanan. Mereka adalah para idealis yang siap menghadapi perubahan dengan berjuang tanpa pamrih, tanpa kenal lelah dan henti. Untuk itu mereka tidak takut mati.
  • Weisya adalah kaum pedagang, petani, buruh atau tukang dan sejenisnya. Wilayah orientasi kaum weisya adalah kehidupannya sendiri dan pasar. Sekaligus sebagai pilihan mata pencariannya, weisya berkarya sesuai permintaan dan demi kepuasan pasarnya. Mereka menjalankan segala sesuatu yang memberikan manfaat secara langsung bagi hidupnya di dunia. Mereka tidak mudah menerima risiko kerugian.
  • Sudra merupakan klas atau tingkat terendah. Pada umumnya klas lain tidak menghargai klas sudra ini. Mereka dipandang hina terutama dikarenakan wilayah orientasi hidup dengan sikap moralnya yang sempit. Sikap moral sudra adalah, mampu melakukan apa saja demi keinginannya tanpa mempertimbangkan sah atau tidak sah, halal atau haram. Mereka tidak perlu berhitung untuk soal martabat maupun harga diri.

Seniman pelukis dengan sikap moral brahmana

Sebagai ‘pemilik kebebasan sejati’ seorang ‘seniman pelukis brahmana’ bisa berbuat dengan penuh ‘ke-sewenang-wenangan’ untuk membangun atau merubah secara hak nilai-nilai kehidupan demi kehidupan berikutnya yang lebih baik.

Bagi brahmana, karya merupakan peristiwa semesta, yang menandakan adanya kelahiran atau perubahan nilai-nilai kehidupan dalam jagad raya.

Konsepsi, ide dan thema dari karya-karyanya mengalir dalam setiap tarikan nafasnya, termasuk dalam karya-karyanya yang sering mereka katakan sebagai ‘non konsep’. Hal itu terjadi dikarenakan sebagai brahmana mereka tinggal di wilayah konsepsi, ide dan thema.

Melalui garis-garis dan warna-warninya para ‘seniman pelukis brahmana’ memberikan rangsangan penuh energi yang mendorong dan menggerakkan kehidupan lainnya hingga terjadilah perubahan-perubahan yang hidup.

‘Pemilik kebebasan sejati’ tidak kenal salah atau gagal dalam berkarya. Dia berada di tempat yang benar secara hak, sehingga apapun yang dia perbuat benar saja adanya.

‘Seniman pelukis brahmana’ terbebas dari nilai, standar dan norma-norma khalayak, karena dialah yang membangun nilai, standar dan norma-norma. Dia juga terbebas dari jarak, ruang dan waktu, baik dan buruk, senang dan tidak senang, laku tidak laku, baginya sama saja. Dia tidak terikat dengan standar-standar materialisme. Dia juga tidak lagi mempersoalkan ‘kepribadian’. Karena semua itu adalah ‘miliknya dan ada dalam kendalinya’.

Karya-karya ‘seniman pelukis brahmana’ tidak mudah dijangkau dan dipahami oleh kebanyakan. Seperti mantra, dzikir atau do’a, pengaruh karya-karyanya pada kehidupan ini bisa bersifat langsung ataupun tidak langsung. Bisa dirasakan ataupun tidak bisa dirasakan. Tetapi yang pasti, tidak bisa dielakkan. Artinya, bukan semata-mata pada apa yang bisa dilihat atau didengar, tetapi lebih pada apa yang bisa terjadi sesudahnya.

Orientasi moral ‘seniman pelukis brahmana’ adalah terus menerus melakukan pembaruan dan perubahan hakikiah nilai-nilai kehidupan berdasarkan kebebasan yang tanpa hambatan dan cela dalam wilayah orbitnya yang jagad raya. Baginya hasil akhir adalah awal dari proses pembaruan dan perubahan berikutnya.

Seniman pelukis dengan sikap moral ksatria

Sebagai pemimpin dan penguasa dunia, komitmen seorang ‘seniman pelukis ksatria’ adalah menjadi bagian langsung dari kehidupan. Yang karena cintanya yang tulus, penuh pengabdian dan siap melakukan pengorbanan, mereka melaksanakan, menjaga dan membela kehidupan agar berjalan secara indah, adil dan benar. Seperti halnya seorang pemain pedang, di tangannya pedang yang tajam. Dengan ketrampilan tingginya dia memainkan pedangnya, menegakkan yang roboh dan meluruskan yang bengkok.

‘Seniman pelukis ksatria’ senang dengan tantangan, dinamika dan perubahan. Mereka tidak akan menghindari penderitaan, tekanan dan pukulan. Mereka sangat menikmati persaingan. Mereka tidak pernah curang. Kekalahan dan kemenangan yang silih berganti, selalu melekat dalam perjalanan kehidupannya.

Setiap karyanya bernilai ‘eksekusi’. Suatu nilai keputusan dari seorang ksatria yang berkaitan dengan standar, norma dan nilai-nilai kehidupan yang harus di perjuangkan, dibela dan ditingkatkan kwalitasnya.

Bagi ksatria, hasil akhir adalah puncak dari sebuah proses, oleh karenanya mereka kenal ‘finishing touch’. Namun bagi mereka, proses tetap lebih penting dari hasil akhir.

Konsep, ide dan thema merupakan pergulatan, kegelisahan, pencarian, petualangan dan peperangan yang tak habis-habisnya bagi para ksatria.

Pada umumnya kehidupan ‘seniman pelukis ksatria’ memang sangat romantis dan penuh pencarian. Menjadi sumber dari keindahan, kelembutan dan ketegaran, para ksatria menampilkan bentuk, warna, garis dan bidang dengan penuh gelora, spontanitas dan kejujuran dalam karyanya. Mereka sangat mengutamakan jati diri atau kepribadiannya dan bangga oleh karenanya. Pada jati diri atau kepribadiannya yang berlandaskan cinta, pengabdian dan pengorbanan itulah nilai ke-senimanannya ditampilkan.

Karya-karya para ksatria menjadi acuan dan rumusan tentang kaidah, norma, standar dan nilai-nilai kehidupan.

Banyak legenda yang lahir dari para ‘seniman pelukis ksatria’. Karya-karya terbaik mereka mengisi tempat-tempat terbaik dan terhormat di dunia.

Sambutan dan pujian dunia tertumpah pada ‘seniman pelukis ksatria’ pada setiap kehadirannya. Arena pamerannya menjadi ajang puncak aktualisasi dirinya. Menjadi terminal dari setiap episode perjuangannya.

Banyak dari para pelukis ingin dikesankan hidup diwilayah ‘seniman pelukis ksatria ini’.

Seniman pelukis dengan sikap moral weisya

‘Seniman pelukis weisya’ hidup dan dihidupi oleh karya-karyanya. Mereka mengisi kebutuhan ‘keindahan’ di dunia. Mereka adalah pekerja-pekerja dan tenaga-tenaga trampil & produktip. Mereka gudang komoditi seni, dan memiliki pasar yang terbentang luas di berbagai penjuru.

Sebagaimana pedagang, petani atau tukang, hampir tak ada satu bendapun di dunia yang tidak disentuh oleh ‘seniman pelukis weisya’ ini. Mereka sangat ‘market oriented’.

Bagi weisya, karya adalah komoditi, produk, stock, modal, cadangan, asset, investasi, jaminan atau tabungan. Prosesnya harus ‘cucuk’ seimbang dengan hasil akhirnya agar terhindar dari kerugian.

Strategi produksi, pemasaran dan distribusi menjadi acuan utama para seniman pelukis weisya dalam menyiapkan konsepsi, ide dan thema karya-karyanya.

Mereka tidak terlampau mempersoalkan ‘kepribadian’, sepanjang mayoritas pasar mereka tidak mempersoalkannya.

Di hotel-hotel, kantor, gedung pertemuan, karya-karya ‘seniman pelukis weisya’ mengisi ruangan dan dinding-dindingnya.

Mereka akan mempertahankan apa-apa yang pernah mereka capai. Mereka tidak merasa perlu melakukan pengorbanan-pengorbanan atau merugi, sambil terus berusaha keras untuk tetap disenangi para pelanggannya.

Mereka senang dengan kemapanan. Mereka tidak begitu senang dengan dengan perubahan. Karena perubahan mereka pandang identik dengan ancaman.

Dalam kenyataannya dunia memang banyak membutuhkan mereka.

Orientasi moral ‘seniman pelukis weisya’ adalah berkarya untuk pasar dan sekaligus sebagai pilihan mata pencariannya.

Seniman pelukis dengan sikap moral sudra

Inilah tokoh antagonis dan sisi gelap dalam dunia seniman pelukis. Seniman pelukis dengan ‘sikap moral sudra’ nyaris tampil tanpa bentuk kecuali antagonisnya tadi.

Walaupun banyak di antara mereka datang dari klas sosial ekonomi & pendidikan menengah dan atas, mereka adalah ‘pemakan remah-remah roti’ sisa para seniman lainnya. Mereka adalah epigonis yang asyik mencetak, mencontek, memalsu, meng-copy karya-karya orang lain atau karya sendiri secara sembunyi maupun terang-terangan dalam menjalani hidupnya.

Bagi mereka proses tidaklah penting, yang penting adalah hasil akhirnya. Bagaimanapun caranya.

Mereka adalah oportunis sejati yang masa bodo dengan berubah atau mapan. Karena pada keduanya mereka bisa mengambil manfaat. Mereka bisa muncul di mana-mana, kapan saja, dalam berbagai bentuk dan mampu melakukan metamorphose menjadi apa dan siapa saja dalam upaya mengejar tujuannya. Mereka terkadang nampak bergerombol, tetapi bukan menyatu, karena pada dasarnya mereka hanya sekumpulan egois, yang kalau perlu bisa menginjak yang lain.

Mereka tidak berbicara mengenai identitas, aktualisasi, kepribadian dan sebagainya. Hal yang terlalu jauh bagi mereka. Wilayah orientasinya hanyalah ‘pokoknya bisa hidup’ dengan cara apapun. Demikian naïf dan hewani.

Mereka juga punya pasar. Bahkan pasar mereka bisa demikian luas dan besar. Kadang-kadang mereka bergerak di bawah tanah. Kemungkinan besar pasar mereka juga datang dari sikap moral yang sama.

Perbedaan klas merupakan kebutuhan

Dan bagaimana dengan keadaan ‘flat’ sebagaimana yang tersebut di atas. Apakah ‘fair’ memproduksi atau membiarkan adanya cara penilaian dimana para seniman yang memiliki tingkat pencapaian, wilayah orbit dan orientasi serta komitmen dan risikonya yang berbeda, ditampakkan seperti berada di ruang yang sama dengan ketinggian lantai yang sama pula ?!

Adakah kerugian dalam jangka pendek maupun panjang, khususnya untuk perkembangan seni lukis Indonesia kita ?

Lebih jauh lagi, dampak macam apa yang mungkin timbul dalam kehidupan budaya kita, budaya bangsa ?

Kita meyakini bahwa cara pengamatan dan penilaian yang menimbulkan kesan ‘flat’ pada keberadaan seniman pelukis adalah tidak benar.

Dan akibat serius dari kesan itu adalah timbulnya kerancuan nilai-nilai dalam dunia seni rupa Indonesia.

Dan pada umumnya akibat dari kerancuan nilai-nilai itu adalah, yang ‘brahmana’ diabaikan, kemudian diam dan sunyi. Yang ‘ksatria’ dihindari dan ter-berangus kemudian hilang dari peredaran. Yang ‘weisya’ dipuja-puji untuk ditipu dan jadi sapi perah, dan yang ‘sudra’ dirangkul & digandeng, untuk diajak kong-kalikong. Dan itu berarti bencana bagi harkat, martabat dan peradaban sebuah bangsa.

Perlu diyakini bersama bahwa perbedaan klas itu ada, dan perlu ditampilkan secara spesifik, bukan di ruang yang sama dan ketinggian lantai yang sama pula.

Perbedaan klas tidak untuk diartikan sempit sebagai perbedaan mutu, sebagai yang satu lebih baik dari yang lain. Karena setiap klas memiliki puncak-puncak karya dan ‘masterpiece’-nya sendiri.

Perbedaan klas bukanlah kelemahan tetapi ke-aneka-ragaman, kekayaan dan kekuatan. Perbedaan klas adalah perbedaan prioritas, sasaran dan pendekatan. Dan itu sah.

Perbedaan klas merupakan kebutuhan, bahkan kalau perlu dipertajam, karena setiap klas memiliki ‘carrier planning”-nya sendiri. Tidak benar apabila kenikmatan ‘bajigur’ dibandingkan begitu saja dengan ‘red wine’.

Perbedaan klas adalah hakikiah kesemestaan yang mutlak, tidak bisa dihindarkan.

Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu disikapi berdasarkan renungan, olah nalar dan pikir dari para seniman dan budayawan umumnya.

Bangsa selalu menunggu

Kita perlu bicara dalam ‘skala bangsa’ untuk memahami soal ini. Seniman dan budayawan adalah roh, atma atau jiwa bangsa. Merekalah yang meniupkan api semangat peradaban. Masyarakat dan bangsa selalu menunggu karya-karya dari para seniman pelukisnya.

Sudahkah para seniman pelukis Indonesia memastikan sikap moralnya dan kemudian memposisikan diri di tempatnya secara benar sehingga karya-karyanya mampu memancarkan energi nilai-nilai kehidupan demi kehidupan yang lebih baik ?!

Sejauh mana karya mereka telah ikut menyumbangkan harkat, peradaban dan martabat bangsa sebagaimana seniman pelukis pada bangsa-bangsa lainnya di dunia ?!

Dan sementara itu jangan berharap akan meraih harkat, peradaban dan martabat bangsa sepanjang kerancuan nilai-nilai tetap berlangsung.

Bangsa Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta orang ini memiliki dan bangga terhadap tradisi budayanya. Kehidupan seni budayanya yang sudah mulai sejak jaman batu, telah me-monumental dan menjadi milik dunia.

Dan tentu hal tersebut lahir berkat para pelopor di masa lampau.

Pada masanya mereka merupakan budayawan dan tentu saja intelektual dengan visi dan orientasi yang jauh ke depan. Terbukti hingga sekarang karya-karya mereka masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini.

Nyanyian mereka masih kita nyanyikan. Tari mereka masih kita tarikan, musik mereka masih kita dendangkan. Sastra mereka masih ber-ulang-ulang kita baca dan renungkan. Bahkan, kita masih diberi hidup oleh keringat mereka. Bukankah kita masih menjual Borobudur, menjual pagelaran wayang kulit, menjual serimpi dan bedoyo, menjual Bali, Toraja, Batak dan semua lainnya.

Dan sekarang kita duduk di kursi dimana dulu mereka duduk. Kita pegang tongkat estafet yang dengan penuh keyakinan mereka lemparkan kepada kita.

Selendang ‘sampur’ telah jatuh ke diri kita. Apabila kita saat ini berada di sini, artinya kita menerima tanpa syarat ‘sampur’ ini.

Kitalah sekarang yang menjadi roh, atma atau jiwa bangsa yang bertugas meniupkan api semangat peradaban.

Dan mereka yakin bahwa kita bukan pecundang, yang menghindar dari medan laga. Mereka merasakan darah mereka mengalir pada diri kita. Ya. Memang kita bukan pecundang. Kita adalah bagian integral dari bangsa ini. Kita tak terpisahkan dari mata rantai para pendahulu ratusan dan ribuan tahun yang lalu.

Dan kitalah sekarang yang di depan.

Kembali dalam ‘skala bangsa’, semua pihak perlu menjadi bagian utama dalam mensikapi soal ini.

Jakarta, Agustus 2001
Handogo S

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: