PELUKIS PERLU NGOMONG

July 11, 2008

siklus sebuah karya

berawal dari energi
energi melahirkan hasrat
hasrat melahirkan kesadaran
kesadaran melahirkan sikap
sikap melahirkan kehendak
kehendak melahirkan konsep
konsep melahirkan rencana
rencana melahirkan karya
karya melahirkan energi

Setiap orang memiliki latar belakang, pengertian (pemahaman) dan sudut pandang yang berbeda-beda dalam membaca liku kehidupan. Makin tidak harfiah (nyata) apa yang dipandang, makin besar kemungkinan beda-bedanya. Apresiasi bermakna persamaan atau setidak-tidaknya toleransi dari satu orang ke orang yang lain hingga perbedaan ter-jembatani.

Bagi pelukis yang masih memerlukan kehadiran dan apresiasi orang lain, maka…

PELUKIS PERLU NGOMONG

‘Melukis saja terus, nggak perlu banyak omong’, demikian kurang lebih semangat dan dorongan yang sering saya dengar dari para pelukis senior di sanggar-sanggar maupun di institusi pendidikan macam ASRI Yogya saat saya mulai belajar melukis sekitar tahun 1958-an. ‘Omongan seorang pelukis, ya lukisannya’, lanjutnya. Dan kemudian hal itu menjadi semacam fatwa dalam kehidupan para pelukis Indonesia selama ini.

Dan hasilnya, sejak hadirnya ‘berkesenian modern’ di negeri ini lebih dari 70 tahun yang lalu, nyaris tidak ada pelukis Indonesia yang mau atau bisa ngomong. Mereka berkegiatan, melukis, berpameran, melang-lang buana, bertemu antar pelukis, menyaksikan karya-karya dunia di museum-museum dengan gaya diam. Juga dalam diskusi-diskusi tentang dunianya seni lukis, sang pelukis ya, diam. Dan akhirnya yang nampak adalah suatu komunitas para seniman (pelukis) yang bisu.

Sesungguh-sungguhnyalah, gaya ‘seniman membisu’ itu merupakan kemunduran dunia seni budaya bangsa Indonesia. Pada zamannya, seorang ’empu’ pembuat keris biasa menceritakan makna setiap torehan, lekukkan, tatahan atau gambaran, hingga kita mendengar istilah ‘morjosingun‘, suatu akronim dari konsep hingga bentuk serta pilihan bahan pamor, baja, besi dan bangun dari keris-keris yang mereka buat.

Hal yang sama juga dilakukan oleh para ahli-ahli tradisional dalam membangun rumah, membatik, menari dan sebagainya yang selalu di-ikuti adanya omongan lisan ataupun tertulis.

Mereka menyadari bahwa dengan ngomong (sedikit maupun banyak), masyarakat akan lebih cepat dalam memahami ‘apa maunya’ seni dan senimannya.

Ngomong sebagai upaya pencerahan budaya

Suatu kenyataan bahwa, se-realis-realisnya sebuah lukisan, tetap saja merupakan benda abstrak. Masyarakat luas dengan mudah dan cepat memahami keindahan yang nampak pada permukaan sebuah kanvas, tetapi bagi para seniman pelukis merasakan sangat sedikit dari mereka mampu menyelami pesan-pesan utama yang dipancarkan dari kedalaman kanvas tersebut.

Menurut para bijak, budayawan termasuk didalamnya para seniman pelukis adalah ‘roh, atma atau jiwa sebuah bangsa’.

Sesungguhnyalah sebagai ‘roh, atma atau jiwa bangsa’, kerja ke-senimanan merupakan kerja besar. Dalam ber-karya, seorang seniman mengerahkan seluruh sumber dayanya. Pikirannya, ketrampilannya, wawasan hidupnya, sikap moralnya, kepekaan rasanya, kemampuan eksekusinya untuk kemudian diramu secara lengkap, menyeluruh dan menyatu dalam derap, irama dan gejolak kreatip untuk meraih nilai-nilai dalam ungkapan tunggal serta padat (solid), dalam wujud karya seni. Oleh karenanya sebagai budayawan seorang seniman adalah juga seorang intelektual.

Dan selaku intelektual, ditengah masalah kehidupan masa kini yang semakin kompleks, ngomong, dalam lisan maupun tulisan merupakan sarana strategis dan efektip dalam upaya merangsang pencerahan (terbukanya pemahaman, kesadaran) masyarakat pada seni budayanya.

Katakanlah sebagai pribadi atau antar pribadi, mungkin seorang pelukis merasa tidak perlu ngomong, tetapi sebagai sebuah komunitas atau kaum, diantara para pelukis perlu ada yang bisa dan mau ngomong, untuk mengalirkan informasi, menebar siar dan melempar wacana hingga terbukanya pemahaman dan kesadaran pihak lain mengenai ‘kenapa begini, kenapa begitu’-nya tingkah laku dan karya-karya para seniman pelukis.

Omongan akan ‘menyeret’ pemahaman dan imaginasi, yang memungkinkan seseorang keluar dari ‘kaidah dan akidah’ terdahulu, menuju ke ‘kaidah dan akidah’ baru dan atau lainnya untuk ber-apresiasi, sesuai pikiran dan rasa sang seniman.

Lebih jauh lagi, untuk kepentingan pelukisnya sendiri, ngomong akan membuat mereka selalu melakukan ‘up-dating’ (penyegaran) pada berbagai hal yang berkaitan dengan ke-senimanan-nya. Dengan demikian para pelukis selalu berada di garis depan dan peka terhadap perubahan serta pergolakan kehidupan yang terus menerus terjadi dan menjadi sumber inspirasi karya-karyanya.

Pemahaman karya seni dan proses kejadiannya

Kejadian atau hadirnya karya tidak begitu saja tumpah. Lukisan adalah produk dari sebuah proses yang melibatkan waktu, ruang (dimensi) dan materi. Baik materi yang ‘tangible’ (nyata) maupun yang ‘intangible’ (tidak nyata).

Berawal dari energi

Begitulah menurut kaum cerdik pandai (sejak Newton, Albert Einstein, Stephen Hawking dst.) bahwa cikal bakal kehidupan adalah energi. Sejak ‘dentuman besar’ yang memunculkan jagad raya 14 milyar tahun lalu, energilah yang berperan dalam pembentukkan segalanya di semesta tak terhingga ini. Termasuk adanya saya, keponakan, mertua, anda dan teman-teman pelukis lainnya.

Energi melahirkan hasrat

Energi memiliki karakter aktif dinamis. Seolah didorong untuk selalu ingin tahu dia bergerak ke segala arah mencari obyek (atau juga korban) untuk menyalurkan aksi dan dinamikanya. Terjadilah interaksi pada setiap hal-hal yang disentuhnya. Interaksi ini semacam konflik yang mendorong hadirnya hasrat yang menebar secara multi dimensi.

Hasrat melahirkan kesadaran

Mungkin memerlukan milyaran tahun si energi menggelitiki debu-debu kosmis dan benda-benda semesta lainnya dan menghadirkan hasrat hingga terbentuknya ‘macam sesuatu’ atau ‘anu’ yang kemudian makin terlengkapi dengan multi komponen hingga hadirnya kehidupan manusia yang terdiri dari darah, daging, bulu-bulu, otak, hati dan kesadaran.

Manusia yang sadar, melek alam dan lingkungan, melek nilai keindahan, melek ilmu pengetahuan, melek peluang dan ancaman, melek yang baik dan nggak baik, melek panutan dan larangan, melek hakekat awal dan akhir kehidupan erat terkait dengan waktu, ruang (dimensi) dan materi sebagaimana tersebut di atas menjadi modal utama dari setiap proses kejadian.

Orang-orang mendapatkan dimensi kesadaran yang berbeda. Mulai dari kesadaran paling dasar yang bertolak dari ukuran fisik (material) semata. Hingga kesadaran tinggi yang bertolak dari pengamatan mata, pikiran dan hatinya.

Kesadaran melahirkan sikap

Secara hakiki setiap orang memiliki kebutuhan. Hadirnya kesadaran mendorong naluri seseorang mencari pemenuhan kebutuhan tersebut. Tinggi rendahnya tingkat dan dimensi kesadaran seseorang menentukan tinggi rendah tingkat kebutuhannya. Abraham Maslow berteori, jenjang kebutuhan manusia yang paling rendah adalah, pemenuhan kebutuhan fisik (makan, minum, sandang, papan dst.) kemudian menyusul kebutuhan rasa aman, kebutuhan saling mencintai, kebutuhan menghargai dan dihargai dan yang tertinggi adalah kebutuhan aktualisasi diri. Dengan itu seseorang kemudian mengambil sikap dan ancang-ancang, memposisikan diri, memilih jarak, ruang dan waktu untuk ‘nggayuh‘ (meraih) pemenuhan kebutuhannya.

Sikap melahirkan kehendak

Sesuai dengan tingkat dan dimensi kesadaran yang dimilikinya, seorang pelukis menetapkan kehendak, cita-cita, sasaran dan target untuk lukisan yang akan dibuatnya. Ada yang merasa cukup apabila dengan lukisannya bisa makan, minum, membeli sandang, papan serta kebutuhan dasar lainnya. Ada yang selalu berusaha agar karyanya selalu disukai dan aman dari kemungkinan putusnya hubungan dengan art gallery (konsumen). Dan ada pula yang secara sistematis menjadi seniman pelukis demi popularitas dan pujian dari lingkungannya.

Dan bagi pelukis yang mengutamakan kebutuhan aktualisasi diri, serta sepenuhnya menempatkan diri sebagai ‘roh, atma atau jiwa bangsa’, melalui karyanya mereka mengabdikan diri demi kesejahteraan umat manusia dan atau kehidupan yang lebih baik dalam arti luas. Mereka berkerja dengan penuh ridha, siap berkorban dan tulus tanpa mengharapkan imbalan atau pamrih-pamrih sempit.

Kehendak melahirkan konsep

Berdasarkan kehendak, cita-cita, sasaran dan target seorang pelukis menyiapkan konsep (mengikuti gejolak kreatip menyentuh obyek, thema, bentuk, paradigma, akidah, kaidah, nilai-nilai dsb.) untuk mencapai pemenuhan kebutuhannya.

Konsep melahirkan rencana

Kemudian membuat rencana (prosedur tehnis), melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan berbagai sumber daya yang dimilikinya, menyiapkan rancangan, sarana dan prasarana. Mengkondisikan diri secara mental dan tehnis untuk mencapai wujud akhir.

Rencana melahirkan karya

Dan akhirnya melakukan eksekusi, melukis dan mewujudkan pemenuhan kebutuhannya.

Karya melahirkan energi

Kebutuhan untuk kembali memancarkan energi dari setiap karya sebagai amalan atau sumbangsih untuk kehidupan dan proses berikutnya.

Obat nyamuk, kembali ke energi

Tergantung kebiasaan, kesiapan dan jam terbang sang seniman, tahap-tahap proses di atas tidak selalu ‘urut kacang‘. Segalanya bisa hadir dan mengalir begitu saja.

Dan para pelukis yang terus menerus ber-ulah kreatip dan melakukan pembaruan, kehidupannya seperti spiral obat nyamuk. Semua tahap-tahap proses berputar ulang pada siklus tertentu, sekaligus bergerak menanjak dan mem-fokus (menuju titik pusat). Meningkatkan nilai-nilai sebagai upaya yang tak kunjung usai, seirama putaran jagad raya yang tak kunjung usai pula.

Dan karya kembali menjadi energi. Pola obat nyamuk itu adalah siklus yang mengindikasikan dan menuntut, bahwa idealnya setiap lukisan menghasilkan dan memancarkan kembali energi ke-semestaan-nya demi proses lahirnya karya-karya berikutnya, demi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan yang lebih baik.

Dalam situasi macam inilah perlunya pelukis ngomong. Proses kehadiran karya, dikarenakan adanya ulah kreatip yang menampilkan pembaruan baik pada awal kesadaran ataupun tahap-tahap lanjutannya hingga akhirnya seseorang melakukan eksekusi, sebagai hal yang tidak mudah dilihat dan dipahami oleh khalayak. Omongan seniman akan memperpendek kesenjangan itu. Dan apresiasi masyarakat diharapkan tumbuh dalam koridor yang benar.

Jakarta, Juli 2008
penulis, Handogo Sukarno

One Response to “PELUKIS PERLU NGOMONG”

  1. Asman Says:

    Saya sangat setuju pak!… saya juga punya blog tentang lukisan mohon dikunjungi… beri komentar tentang lukisan dan tulisan saya… & mohon bimbingannya🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: